Wisatawan Eropa Larut dalam Magisnya Ritual “Curu Wina”

Wisatawan Eropa Larut dalam Magisnya Ritual “Curu Wina”

 

1

LABUAN BAJO – wisatawaelolos.com– Langit Januari di atas Kampung Langgo, Desa Wisata Wae Lolos berselimut mendung. Namun, di bawah naungan awan abu-abu itu, sebuah kehangatan yang tak biasa justru membuncah.
Suara langkah kaki yang ritmis dan nyanyian syukur memecah kesunyian. Hari itu, ritual Curu Wina—sebuah tradisi sakral menyambut mempelai wanita dalam budaya setempat—bukan sekadar hajatan warga. Ia menjelma menjadi panggung persaudaraan lintas benua.

Lingkaran Sanda: Melintasi Batas Geografis

WhatsApp Image 2026 01 31 at 12.09.51

Di tengah barisan warga yang mengenakan busana adat, tampak pemandangan yang mencuri perhatian. Tiga wisatawan asal Spanyol dan dua pelancong asal Jerman tidak hanya berdiri di pinggir jalan sebagai penonton. Mereka justru melebur dalam barisan Tarian Sanda.

Tanpa canggung, jemari mereka bertaut dengan jemari warga lokal. Langkah kaki mereka mencoba menyelaraskan ritme, mengikuti gerakan kolektif yang mengantar pasangan pengantin dari gerbang kampung menuju rumah adat.

Secara filosofis, Sanda adalah napas persatuan (unity). Tarian ini adalah manifesto bahwa tak ada manusia yang berdiri sendiri; setiap individu adalah penguat bagi yang lain. Namun siang itu, makna Sanda meluas. Ia membuktikan bahwa sekat negara, bahasa, dan warna kulit luruh seketika saat dilarutkan dalam ikatan kemanusiaan yang universal.

“Pengalaman Paling Jujur”

WhatsApp Image 2026 01 31 at 12.09.51 1

Bagi para pelancong Eropa ini, Curu Wina adalah sebuah kejutan budaya yang menyentuh palung hati terdalam.

“Ini adalah pengalaman paling jujur yang pernah saya rasakan,” ungkap Silvia, salah satu wisatawan asal Spanyol dengan mata berbinar.

“Di negara kami, pernikahan adalah urusan privat yang tertutup. Namun di sini, seluruh kampung berpesta. Mereka menyambut kami seolah kami adalah bagian dari silsilah keluarga besar ini. Ikut menari Sanda membuat saya merasa benar-benar ‘hidup’ di tengah budaya mereka,” ungkapnya.

Senada dengannya, rekan perjalanannya dari Jerman menggambarkan suasana tersebut sebagai momen yang magis. Meski lidahnya tak sanggup mengikuti bait doa dalam bahasa lokal, tubuhnya menangkap pesan yang disampaikan.

“Iramanya sangat menghipnotis. Lewat genggaman tangan dalam tarian ini, kami merasakan energi kebahagiaan yang sama. Wae Lolos bukan sekadar destinasi pemandangan, tapi tempat merayakan kehangatan manusia,” ujarnya.

Pesan dari Pelataran Rumah Adat

Kehadiran para tamu mancanegara di tengah ritual sakral ini mengirimkan pesan kuat kepada dunia. Bahwa Budaya adalah bahasa universal yang tidak butuh diterjemahkan.

Hospitalitas warga Kampung Langgo yang membuka pintu rumah adat bagi orang asing menunjukkan kematangan pariwisata berbasis masyarakat di Wae Lolos. Mereka tidak hanya menjual keindahan alam, tetapi juga membagikan “ruh” kehidupan mereka.

Saat langkah kaki terakhir Tarian Sanda berhenti di pelataran rumah adat, sebuah kesadaran baru lahir. Kekayaan adat Flores bukan hanya milik warga Langgo, melainkan warisan dunia yang menjaga kewarasan kita tentang arti persaudaraan yang sesungguhnya.

*(Robert Perkasa)

Loading

Share This :

Scroll to Top