Ketika Pintu Wae Rebo Tertutup, Wae Lolos Memeluk : Kisah Persaudaraan Tak Sedarah di Cunca Plias

Ketika Pintu Wae Rebo Tertutup, Wae Lolos Memeluk : Kisah Persaudaraan Tak Sedarah di Cunca Plias

 

WhatsApp Image 2026 08 25 at 09.12.21

Hospitality yang tulus memiliki kekuatan penyembuh yang luar biasa.

Jumat Petang, 21 Agustus 2026. Mentari mulai condong ke barat di ufuk Labuan Bajo, melukis langit dengan warna keemasan yang tenang. Di sebuah sudut Desa Wisata Wae Lolos, tawa renyah pecah, memecah kesunyian hutan yang asri. Tawa itu datang dari tiga orang yang, jika dilihat sekilas, tampak seperti keluarga lama yang sedang bereuni. Namun sejatinya, jalinan persaudaraan di antara mereka baru saja terajut tulus, dan mendalam.

Mereka adalah Ibu Dian dan Ibu Siska, dua petualang tangguh asal Jakarta. Mereka influencer travel yang telah melalang buana hingga ke benua Eropa.

Dua hari lalu, mereka mendarat di Flores dengan satu mimpi besar: menapakkan kaki di desa legendaris di atas awan, Wae Rebo. Semangat mereka membumbung tinggi, membayangkan kabut yang menyelimuti rumah-rumah niang yang ikonik.

Namun, alam punya rencana lain. Saat mereka tiba, kabar duka menyelimuti. Pintu menuju Wae Rebo ditutup sementara. Cuaca ekstrem yang tidak bersahabat, disusul guncangan gempa bumi, telah memorak-porandakan pulau Flores, menjadikan jalur ke sana tidak aman. Kekecewaan berat melanda. Mimpi yang sudah di pelupuk mata pupus seketika, menyisakan ketidakpastian di tengah liburan yang sudah direncanakan matang.

“Jujur, kecewa sekali awalnya,” kenang Ibu Dian, gurat kesedihan sempat melintas di wajahnya. “Wae Rebo itu destinasi impian kami. Saat tahu ditutup karena bencana, rasanya… down.”

Di tengah kebuntuan dan rasa kecewa itu, naluri petualang mereka bangkit. Mereka menolak untuk menyerah pada keadaan. Jari-jari mereka menari di atas layar ponsel, mencari destinasi alternatif di sekitar Labuan Bajo melalui media sosial. Di sanalah, takdir mempertemukan mereka dengan sebuah nama yang menawarkan pesona yang tak kalah memikat: Desa Wisata “Seribu Air Terjun” Wae Lolos.

“Kami menemukan destinasi Cunca Plias ini melalui media sosial,” cerita Ibu Dian, matanya kini berbinar. “Rasa kecewa kami akhirnya terbayar lunas. Desa Wisata Wae Lolos ini membuat kami nyaman dan menghapuskan kekecewaan kami,” ujarnya.

Keajaiban itu pun datang. “Desa Wisata Seribu Air Terjun itu di sini, ya?”, tanya Ibu Dian sejak mereka turun dari kendaraan roda dua di gerbang desa.

Di Tourist Information Center (TIC), saya menyambut mereka. Pertemuan itu sederhana, dimulai dengan pengisian buku tamu, namun itulah awal dari sebuah jalinan hospitality (keramahtamahan) khas Flores, yang tulus dan tanpa sekat, langsung terasa.

Tugas saya bukan sekadar menjadi penunjuk jalan, melainkan menjadi jembatan antara dua dunia yang berbeda. Sepanjang perjalanan trekking menuju lokasi wisata Seribu Air Terjun Wae Lolos, saya menceritakan kisah-kisah desa, tentang kearifan lokal, dan keunikan alamnya. Langkah demi langkah, beban kekecewaan mereka perlahan luruh, tergantikan oleh rasa ingin tahu dan kekaguman.

Puncaknya adalah saat mereka tiba di “Kolam di Atas Awan”. Air terjun Cunca Plias yang jernih, mengalir di antara celah bebatuan purba, menciptakan kolam alami dengan pemandangan lembah hijau yang menakjubkan. Di sinilah, Ibu Dian dan Ibu Siska benar-benar “lepas”. Mereka mandi dengan riang, air dingin yang segar seolah membasuh sisa-sisa kesedihan. Foto-foto pun tercipta, bukan sekadar untuk konten, tapi sebagai saksi kebahagiaan yang otentik.

Tidak sia-sia kami datang di sini. Desa ini terlalu indah, bersih dan nyaman,” puji Ibu Dian tulus.

Perjalanan pulang tak kalah berkesan. Kehangatan warga desa menyempurnakan kisah senja itu. Di salah satu kantin milik warga, kami duduk bersama, menikmati kelapa muda yang segar. Di sinilah obrolan mengalir lebih dalam. Tidak ada lagi jarak antara wisatawan dan pemandu, antara orang kota dan orang desa.

Bersaudara tidak mesti sedarah,” gumam saya dalam hati, melihat keakraban Ibu Dian dan Ibu Siska yang kini tampak seperti bagian dari keluarga besar Wae Lolos.

Momen ini, Jumat petang di Wae Lolos, menjadi bukti bahwa pariwisata bukan sekadar tentang destinasi, tapi tentang koneksi manusia. Hospitality yang tulus memiliki kekuatan penyembuh yang luar biasa. Ia mampu mengubah kekecewaan menjadi rasa syukur, dan mengubah orang asing menjadi saudara.

Bagi Ibu Dian dan Ibu Siska, Wae Rebo mungkin tetap menjadi mimpi yang tertunda. Namun, Wae Lolos telah memberikan sesuatu yang jauh lebih berharga: sebuah rumah, sebuah keluarga baru, dan sebuah kenangan indah tentang persaudaraan yang tak sedarah di jantung pulau Flores.

“Wae Lolos benar-benar mengobati luka kami,” pungkas Ibu Dian, tersenyum lebar. Dan di bawah langit petang itu, senyum itu adalah penutup paling manis untuk sebuah kisah tentang keramahtamahan yang menyatukan.

 

*(Robert Perkasa, Ketua Pokdarwis Cunca Plias).

 

Loading

Share This :

Scroll to Top