Ritual Cunca Plias dan Decak Kagum Wisatawan Eropa

Ritual Cunca Plias dan Decak Kagum Wisatawan Eropa

WhatsApp Image 2026 01 31 at 12.52.59

Labuan Bajo, wisatawaelolos.com – Langit di atas Kampung Langgo seolah sedang tersenyum. Setelah sempat didera cuaca ekstrem yang mencemaskan, alam tiba-tiba bersahabat, menyisakan udara sejuk yang memeluk perbukitan Desa Wisata Wae Lolos. Di tengah suasana tenang inilah, denyut spiritualitas warga kembali berdetak melalui ritual adat Cunca Plias.
Namun, prosesi kali ini terasa berbeda. Di antara barisan warga yang khidmat, tampak beberapa wajah asing yang menatap penuh takzim. Sejumlah wisatawan asal Spanyol dan Prancis hadir bukan sebagai penonton, melainkan sebagai saksi mata atas keintiman hubungan antara manusia, leluhur, dan alam Flores.

Ziarah dari Mbaru Gendang hingga Tirai Air
Ritual dimulai di jantung tradisi, Mbaru Gendang (Rumah Adat) dan Compang Kampung Langgo. Suasana magis langsung terasa saat para tokoh adat—mengenakan kemeja putih yang kontras dengan sarung tenun ikat motif Manggarai yang gagah serta ikat kepala kain (sapu)—duduk melingkar di atas susunan batu sakral. Di tangan mereka, seekor ayam putih menjadi simbol ketulusan hati dalam berkomunikasi dengan para leluhur.

Perjalanan spiritual berlanjut, menyusuri jalan setapak menuju sumber air warga, hingga tiba di puncaknya: gemuruh Air Terjun Cunca Plias. Di hadapan tirai air yang megah, para wisatawan Eropa ini tampak terkesima. Mereka menyaksikan bagaimana sesajian diletakkan dan doa-doa dirapalkan di tengah rimbunnya hutan hijau yang basah.

Salah satu wisatawan asal Prancis tampak mengenakan kain tenun khas setempat yang disampirkan di bahunya—sebuah bentuk penghormatan visual terhadap budaya yang sedang ia masuki.

“Pagar Gaib” Bagi Para Tamu

WhatsApp Image 2026 01 31 at 12.52.59 1

Ketua Pokdarwis Cunca Plias, Robert Perkasa, menjelaskan bahwa ritual ini adalah bentuk komunikasi dua arah antara warga yang masih hidup dengan para penjaga alam. Selain sebagai ucapan syukur atas keberhasilan tahun lalu, ritual ini berfungsi sebagai perlindungan bagi setiap pengunjung.

“Kami merayu alam dan memohon kepada Sang Pencipta agar siapa pun yang menginjakkan kaki di Desa Wisata Seribu Air Terjun ini dijauhkan dari mara bahaya,” ujar Robert dengan nada rendah namun penuh keyakinan.

“Kami ingin setiap wisatawan pulang dengan kenangan indah, tanpa ada air mata atau kecelakaan. Ini adalah ‘pagar gaib’ kami untuk mereka”, kata Robert.

Tonggak Baru di TIC dan Harapan dari Bank Indonesia

Momen sakral ini juga menjadi penanda babak baru kemandirian desa. Bersamaan dengan ritual ini, kantor baru Pokdarwis yang berfungsi sebagai Tourist Information Center (TIC) resmi beroperasi. Fasilitas ini, lengkap dengan sarana toilet bersih bantuan dari Bank Indonesia, menjadi bukti bahwa modernitas pelayanan bisa berjalan beriringan dengan keteguhan adat.

Cuaca yang mendadak cerah seolah menjadi restu alam bagi masyarakat Wae Lolos. Saat asap kemenyan menyatu dengan butiran embun dari air terjun, tersirat harapan besar: Cunca Plias tidak hanya akan dikenang karena keindahan visualnya yang memanjakan mata, tetapi juga karena kehangatan doa yang menjaga setiap langkah para pelancongnya.

Bagi tamu dari Spanyol dan Prancis yang hadir, trip hari itu bukan sekadar perjalanan wisata. Ini adalah sebuah ziarah budaya; sebuah kisah tentang bagaimana manusia menghargai air sebagai sumber kehidupan, yang akan mereka ceritakan kembali saat menjejakkan kaki di tanah Eropa nanti.

 

*Robert Perkasa

Loading

Share This :

Scroll to Top