Turis Jepang Terpesona Harta Karun Desa Wisata Wae Lolos

Turis Jepang Terpesona Harta Karun Desa Wisata Wae Lolos

2Q==

Sore itu, Kamis, 13 Agustus 2026, mentari mulai meluncur pelan di ufuk barat, Kecamatan Sano Nggoang, Kabupaten Manggarai Barat, Flores, Nusa Tenggara Timur. Ketika sebagian besar pengunjung mulai beranjak pulang, Pokdarwis Cunca Plias Desa Wisata Wae Lolos justru menyambut kedatangan rombongan tamu terakhirnya. Mereka adalah dua pasangan suami istri asal Negeri Sakura, Jepang—Mr. Etsuji bersama Narumi, serta Mr. Masaki bersama Manya.

Wajah-wajah mereka menyiratkan kelelahan yang jujur. Maklum saja, tubuh mereka baru saja menempuh perjalanan darat dan trekking panjang dari destinasi ikonik Wae Rebo. Sebelum kembali ke riuk pikuk Labuan Bajo, mereka memutuskan untuk mampir sejenak di Desa Wae Lolos.

Rencananya sederhana. Bahkan terkesan terburu-buru: hanya ingin trekking singkat dan menyegarkan badan dengan mandi di area wisata “Seribu Air Terjun”. Namun, alam Wae Lolos punya caranya sendiri untuk menahan langkah siapa pun yang bertandang.

Temukan “Harta Karun” Desa Wae Lolos

Saat melangkahkan kaki menyusuri jalur jelajah desa, niat untuk sekadar “singgah sebentar” perlahan luluh. Jalur setapak menuju air terjun tidak hanya menyajikan panorama perbukitan yang asri, tetapi juga “museum hidup” tanaman perkebunan milik warga lokal.

Di sepanjang jalan, mata mereka tak henti-hentinya berbinar. Langkah kaki yang semula bergegas mendadak pelan. Keingintahuan khas wisatawan Jepang terpancar jelas saat mereka mengamati vegetasi lokal. Salah satu momen paling berkesan terjadi ketika mereka berhenti di depan sebatang pohon merambat.
Untuk pertama kalinya dalam hidup mereka, Mr. Etsuji, Narumi, Mr. Masaki, dan Manya melihat langsung tanaman vanilla tumbuh alami di kebun warga.

Dengan penuh rasa ingin tahu, mereka mengamati bentuk daun dan polong buah vanilla yang kerap mereka nikmati dalam olahan hidangan di negara asal mereka, namun belum pernah mereka lihat wujud aslinya di alam lepas. Menyentuh dan mengabadikan momen bersama tanaman komoditas unggulan ini menjadi bonus petualangan yang sama sekali tak terduga.

Kesegaran Alami di Seribu Air Terjun

Perjalanan berlanjut hingga ke tingkahan gemericik air tawar yang jernih. Kolam di atas awan menjadi buruan mereka. Rasa lelah perjalanan jauh dari Wae Rebo seolah luntur seketika. Duduk di atas batuan sungai yang teduh, merasakan sejuknya aliran air pegunungan yang membasahi tubuh, dan dikelilingi rindangnya pepohonan hijau menjadikan sore itu begitu magis bagi mereka.

Keindahan alam yang autentik, kehangatan warga lokal, serta suasana pedesaan yang tenang membuat mereka lupa akan jarum jam yang terus berputar. Niat awal untuk sekadar mampir singkat berubah menjadi petualangan hingga malam mulai menyapa desa.

Sebelum berpamitan di bawah gerbang “Wisata Seribu Air Terjun”, kehangatan persahabatan lintas negara itu terpatri dalam sebuah foto bersama. Kain tenun khas Flores yang tersampir anggun di bahu ibu Manya semakin mempertegas keindahan interaksi budaya sore itu.
Rasa puas dan kesan mendalam tak sanggup ditutupi. Sebelum melangkah menuju kendaraan yang akan membawa mereka kembali ke Labuan Bajo, ia menyampaikan pesan tulus yang menyentuh hati:

Berkat Robert, kami mendapat pengalaman yang sangat menyenangkan dan luar biasa. Terima kasih banyak!” — Manya

Bagi Pokdarwis Cunca Plias, sore itu hanya satu dari sekian banyak hari di mana alamnya memanjakan para pelancong. Namun bagi Mr. Etsuji, Narumi, Mr. Masaki, dan Manya, persinggahan “tanpa sengaja” ini telah berubah menjadi salah satu kenangan paling autentik dan berkesan selama menjelajahi indahnya bumi Flores.

*(Robert Perkasa, Ketua Pokdarwis Cunca Plias)

Loading

Share This :

Scroll to Top